Kultur Sekolah

Senin, 19 April 2021
Nama: M Ridho Hadiska Riono
Nim : 11901025
Kelas: PAI 4G
Mata Kuliah: Magang 1

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, hai apa kabar teman-teman? Semoga puasanya lancar, aamiin ya rabbal Alamin, baiklah kali ini saya akan menjelaskan tentang kultur sekolah melalui tulisan sederhana ini, selamat membaca, semoga Bermanfaat ☺️🙏.

Dari hasil bacaan saya, dapat saya sampai bahwa kata kultur diartikan sebagai budaya yaitu terlahir dari suatu masyarakat yang membuat serangkaian aturan yang mengikat dimasyarakat itu sendiri sehingga aturan tersebut dapat di akui dan menjadi milik bersama serta dapat diterima dimasyarakat itu sendiri. Budaya yang mereka akui untuk dijadikan sebuah patokan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai norma dan hukum yang berlaku dimasyarakat tersebut sehingga dapat mencapai tujuan bersama.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Efianiningrum (2007: 52) bahwa kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Jadi, kultur yang ada dimasyarakat tersebut secara alami diwariskan oleh generasi yang ada sekarang kepada generasi yang akan datang. Kultur juga dapat diartikan sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dimasyarakat, baik itu mencakup sikap, cara berprilaku terhadap orang lain, maupun cara berfikir serta nilai yang baik dalam wujud fisik maupun non-fisik.

Sekolah ialah suatu tempat untuk mencari ilmu pengetahuan dan pengalaman, serta tempat untuk memperoleh pendidikan sehingga peserta didik dapat mengenal lingkungan sekolah dan beradabtasi dengan peserta didik yang lain, sehingga sekolah harus memiliki kultur yang dapat menghasilkan sumber daya yang baik.

Jadi, dapat dikatakan bahwa kultur sekolah ialah gabungan atau kreasi dari masyarakat yang ada dilingkungan sekolah yang dapat dipelajari serta menjadi aturan dan pandangan dalam lingkungan sekolah dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi untuk menghasilkan sumber daya atau lulusan yang baik, terampil, cerdas, berhati nurani, mandiri, dan sesuai dengan visi-misi yang diharapkan oleh sekolah.

Kultur sekolah dalam lingkungan pendidikan sangat berpengaruh oleh kepemimpinan kepala sekolah, karena kualitas atau pandangan dari sekolah tersebut sangat bergantung pada kepemimpinan kepala sekolah, guru, serta peserta didik yang ada disekolah, karena jika sekolah tersebut memiliki budaya displin yang baik serta memiliki prilaku yang baik, maka sekolah tersebut berhasil menjalankan visi misinya untuk mendapatkan lulusan yang baik. Tetapi, jika sekolah tersebut tidak mematuhi aturan, dan hanya tidak menjalankan kultur sekolah dengan baik, maka akan berpengaruh buruk untuk pandangan sekolah tersebut.

Oleh karena itu, kultur sekolah dibedakan menjadi beberapa macam, sebagai pandangan masyarakat ke sekolah tersebut, yaitu kultur sekolah yang positif, kultur sekolah yang negatif dan kultur sekolah yang netral.

Kultur sekolah yang positif ialah aturan-aturan serta kegiatan yang mengarahkan warga sekolah pada hal yang positif untuk mendukung kemajuan kultur sekolah dan meningkatkan kualitas pendidikan disekolah tersebut seperti memberikan ambisi untuk berprestasi baik untuk peserta didik, guru maupun kepala sekolah nya. Membuat aturan disekolah yang dapat dijalankan oleh setiap warga sekolahnya seperti bersikap baik, jujur, menegakkan sportivitas, mengakui keunggulan pihak lain serta harus saling menghargai.

Kultur sekolah yang negatif ialah segala aturan yang dibuat dalam lingkungan sekolah tidak ditaati sehingga menimbulkan kegiatan-kegiatan yang mengarah ke hal negatif dan tidak mendukung peningkatan kualitas pendidikan seperti banyaknya jam kosong dan absen tugas sehingga membuat peserta didik malas dalam belajar dan turunnya prestasi sekolah tersebut. Adanya sikap tidak saling menghargai sehingga antara satu dan yang lain saling menjatuhkan yang menimbulkan sebuah perpecahan. Selain itu, kultur sekolah tersebut menekankan pada nilai bukan pada kemampuan, sehingga membuat peserta didik tidak jujur dalam berprilaku.

Kultur sekolah yang netral ialah kegiatan yang mengarah kepada hal yang positif maupun negatif sehingga tidak berpengaruh pada peningkatan kualitas pendidikan seperti adanya kegiatan yang tidak memajukan sekolah yaitu arisan sekolah, dan lain sebagainya.

Kultur sekolah terbentuk untuk memperbaiki kinerja yang ada disekolah meliputi kepala sekolah, staff, tenaga pendidik (guru), peserta didik, orang tua, dan masyarakat disekitarnya untuk mewujudkan budaya sekolah yang displin, solid, positif, profesional dan kuat. Artinya budaya sekolah tersebut dapat menjadi komitmen bagi warga sekolah nya untuk berprilaku baik dan menjadi kepribadian sekolah sehingga menimbulkan budaya sekolah yang memiliki suasana kekeluargaan, positif dalam kegiatan yang sehat, adanya kolaborasi antara peserta didik dan pengajar dalam memajukan prestasi disekolah, serta menghargai satu sama lain sehingga tidak ada kecemburuan sosial antara satu dan yang lain. Selain itu, warga sekolah dapat berkomitmen bersama untuk mewaspadai kultur negatif yang menyimpang dalam norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang ada.

Tujuan adanya kultur sekolah sendiri yaitu untuk membina mental dan moral yang artinya warga sekolah dituntut untuk bisa menjaga moral/prilaku meraka yang mengarah kepada hal yang positif sehingga menimbulkan pandangan yang baik untuk sekolah tersebut. Selain itu, juga untuk menciptakan sekolah yang ideal yaitu sekolah yang menjaga aturan dengan baik dan mengarahkan warga sekolah melakukan kegiatan-kegiatan yang menuju peningkatan kualitas pendidikan disekolah tersebut.

Fungsi dari adanya kultur sekolah ialah meningkatkan mutu sekolah termasuk kualitas sumber daya yang dimiliki sekolah yang sesuai dengan visi misi sekolah untuk meningkatkan lulusan yang cerdas, baik dan berprestasi. Selain itu, kultur sekolah juga membantu warga sekolah memahami lingkungan sekolah dengan saling berinteraksi satu sama lain, atau melihat interaksi antar warga sekolah dan membantu warga sekolah membina identitas mereka sendiri.

Karakteristik kultur sekolah terbagi menjadi dua macam yaitu kultur positif dan kultur negatif. Kultur positif ialah budaya yang dapat membantu warga sekolah untuk mencapai tujuan bersama dilingkungan sekolah yang membuat pandangan positif dari masyarakat ke sekolah tersebut, kultur positif yang dapat dikembangkan oleh sekolah ialah memiliki sikap toleransi yaitu saling menghargai sesama baik dari warna kulit, agama, fisik, dan lain sebagainya, sehingga tidak menimbulkan perpecahan dan kecemburuan sosial terhadap sesama. Selain sikap toleransi, warga sekolah juga harus menjaga pola-pola komunikasi dengan baik sehingg dapat terjalin dengan komunikasi yang baik dan saling membantu antar warga sekolah. Dan kultur sekolah yang positif ini harus terus dikembangkan agar budaya sekolah yang baik dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sedangkan kultur negatif ialah budaya sekolah yang mengarah kepada sifat anarkis, beracun, negatif dan dominatif. Sekolah yang mencapai tujuan yang didapatnya dan merasa puas sehingga tidak ada lagi peningkatan, maka itu termasuk ke dalam kultur negatif, karena kultur sekolah tersebut cenderung tidak mau melakukan perubahan atau peningkatan kualitas pendidikan, sehingga aturan yang telah ditetapkan tidak akan berjalan sesuai visi-misi nya, kultur sekolah tersebut pun bersifat dinamis, yang membuat perubahan pola prilaku dapat merubah sistem nilai dan keyakinan warga sekolah untuk mewaspadai kultur negatif. Namun kultur sekolah dapat menimbulkan konflik atau permasalahan, tetapi jika ditangani dengan baik dan bijak maka akan membawa kepada perubahan positif. Kultur yang negatif dapat membuat pandangan warga terhadap sekolah menjadi buruk, karena kultur sekolah yang negatif membawa kepada hal-hal yang kurang sehat, kurangnya prilaku baik dari warga sekolah nya mulai dari deskriminasi, toleransi yang kurang, serta sikap kurang peduli antar sesama yang membuat suasana sekolah menjadi tidak ada kekeluargaannya.

Untuk menciptakan Kultur baru disekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain seperti memotong atau menghilangkan kultur negatif dengan menghentikan praktik-praktik nya yaitu dengan tidak berbuat anarkis, saling menghargai dengan artian tidak membeda-bedakan status atau apapun itu, dan bersikap baik dengan cara mematuhi aturan sekolah. Selain itu, banyak membicarakan (sosialiasi) praktik-praktik baru dengan nilai yang diharapkan yaitu seperti membuat aturan baru yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan seperti membuat organisasi yang meningkatkan pola pikir dalam menjalankan tugas sebagai warga sekolah dan warga negara yang baik.

Kultur sendiri memiliki peran yang strategis dalam organisasi karena dapat menentukan keberhasilan warga sekolah nya, organisasi yang bersifat positif akan sangat berpengaruh terhadap kepala sekolah, guru, dan peserta didik serta pandangan warga terhadap sekolah tersebut. Jadi dengan adanya organisasi yang positif maka akan membuat sekolah tersebut menjadi unggulan dalam organisasi, tetapi juga dapat mengacu peserta didik untuk berprestasi. Dengan berprestasi pihak sekolah juga harus bisa mengapresiasi peserta didik yang mendapatkan prestasi dengan cara memberikan penghargaan yang membuatnya semakin bertekad untuk maju dan bekerja sama untuk meningkatkan kualitas pendidikan, selain itu peserta didik yang lain akan mengikuti hal yang positif juga dan akan menghasilkan lulusan yang cerdas dan terbaik, dengan adanya sikap jujur, positif, inovatif, kreatif, dan lain sebagainya, akan menjadi sebuah pembelajaran yang dapat digunakan dalam kehidupan bekerja sehingga dapat berpeluang untuk sukses di dunia kerja. Tetapi ada juga yang menjadi penghambat kemajuan kualitas sekolah yaitu kultur yang negatif, maka dari itu perlu adanya perbaikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara sentuhan budaya sekolah terlebih dahulu untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Keadaan seperti ini sesuai dengan hasil pengamatan Gunningham dan Gresso ( Depdiknas, 2003: 5 ) yang menjelaskan bahwa dalam menunjang perbaikan mutu pendidikan sekolah melalui pendekatan struktural tidak mampu mengubah keaadaan secara signifikan yang hanya bersifat top-down dan bersifat sementara berbeda dengan melalui pendekatan kultural yang bersifat buttom-up sehingga warga sekolah tidak merasa terpaksa melakukan perbaikan dengan keaadan yang memang telah menjadi sebuah budaya yang dianut sekolah itu sendiri, sehingga akan memudahkan terwujudnya peningkatan kualitas pendidikan yang diharapkan.

Manfaat dari pengembangan kultur sekolah ini ialah menjamin kualitas kerja lebih baik, karena dengan mematuhi aturan dari budaya sekolah maka antara guru dan peserta didik dapat bekerja sama contohnya dalam hal displin, jujur, bersikap sopan santun dan saling menghargai, serta lebih terbuka dan transparan dalam artian tidak ada yang ditutup-tutupi dalam dunia pendidikan. Selain itu, juga dapat menciptakan solidaritas dan kekeluargaan antar sesama dengan saling membantu dan bekerja sama dalam lingkungan sekolah. Dapat beradaptasi dengan perkembangan IPTEK, karena budaya sekolah yang maju akan membuat peserta didik maju juga dalam perkembangan IPTEK. Selain itu, dapat membuat rasa kebersamaan dan saling memiliki terjalin, karena adanya sikap toleransi maka antar warga sekolah lebih menghargai sebuah perbedaan, dan dari perbedaan tersebut dapat menimbulkan hal yang positif, seperti dapat belajar dari budaya yang berbeda, dapat menerima norma yang positif dan lain sebagainya.
Sekian dan terimakasih telah membaca tulisan sederhana ini✨☺️

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 🙏


Sumber : http://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/BAB21413141013.pdf

https://eprints.uny.ac.id/7779/3/BAB%202%20-%2008110241018.pdf


Komentar